• Home
  • About
  • Categories
    • Motherhood
    • Women
    • Life
  • Contact
Twitter Instagram Facebook

Clara in Halves



"Children learn best when they are having fun,"

***

Maybe not many of you know that I am a preschool teacher. I have started my teaching career since 2016 and since, I began to love children world so much. I found teaching toddlers so much fun, it has its own challenges, it's not easy, but I will come back teaching early learners even if I have another option.

I also like to create printables and other teaching materials for them, instead of downloading it from another source. By doing so, I can make materials which are personalized, based on my students' ability and interest, and in line with the theme I currently teach. So, here they are! I am going to share you some of my self-made number puzzle that can be printed out and used to play with your kids!


How to use it?
First, print the printable and cut the each picture according to its shapes (rectangle and oval).
Second, cut the lines that separate the number and the picture.
Third, play them! ask your children to count the pictures and match them with the numbers.

What will your child learn?
1. Counting (always start with quantities, mommies)
2. Recognizing number symbols (and then, try to elaborate quantities with the symbols)
3. Shapes recognition (rectangle if the puzzles are put together, and oval for the egg number puzzle)
4. Learning language by naming items on the puzzle. You can ask your children to say out loud the picture on the puzzle, frog, birds, etc.)

 Yes! So many things to learn from simple puzzles like this, do you agree with me? :-) 
You can download the Egg Number Puzzle for free HERE and the 1-5 Number Puzzle HERE. Enjoy them and don't forget to always play with your child, mommies! Make sure that they are having fun and learn something new from what they are playing.

Some tips to accompany your children in playing:
1. Show them how to do it. Children see, children do.
2. Encourage them to say what they have in mind. You should always appreciate them because they are just being themselves.
3. Be their friends, ask them things, not telling them everything. For example, instead of telling them it's circle, try to ask them, "What shape do you think it is? Is it triangle?" and get ready to be amazed of what they are thinking :-)
4. Try to always wrap up the play so that they know that they learn something new by playing.

So, happy playing and learning! Children's world is amazing!

XOXO,
Clara
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Source: Freepik/senivpetro



Saat anak sudah memasuki usia sekolah, sebagai orangtua pasti selalu ingin mendukung si Kecil di sekolah tempat ia belajar. Mama tentu sangat bersemangat mengantar anak sekolah dan memberikan dukungan dalam hal apapun. Bahkan, Mama semangat mendukung anak secara maksimal, seperti ikut berpartisipasi menyiapkan acara di sekolah atau membantu anak mengerjakan home project dengan baik. Namun, banyak juga Mama yang biasa-biasa saja dan tergolong cuek dengan sekolah anak. Berdasakan pengalaman saya sebagai seorang guru, berikut adalah beberapa etika yang wajib dimiliki orangtua di sekolah:

Source: Pixabay/ddmitrova

1. Saat Anak Sakit, Biarkan Anak Istirahat di Rumah
Banyak Mama yang merasa bahwa biaya sekolah mahal dan oleh karenanya, anak harus masuk setiap hari meskipun sedang sakit. Tentu hal ini bukan hal yang layak dilakukan, apalagi jika si Kecil benar-benar dalam keadaan lemas dan perlu istirahat. Jika si Kecil sedang sakit, biarkan ia istirahat di rumah untuk pemulihan. Selain untuk memberi kesempatan anak kembali sehat, dengan membiarkan si Kecil istirahat di rumah juga berarti bahwa Mama peduli dengan teman-teman si Kecil di sekolah. Bagaimana tidak, jika si Kecil sakit karena terjangkit virus seperti flu, maka Mama ikut mencegah virus flu bertebaran di kelas anak. Sebaliknya, jika Mama memaksa anak masuk ketika sedang sakit, bisa-bisa teman si Kecil juga ikut tertular lho, Ma.

2. Antar dan Jemput Anak Tepat Waktu
Terkadang sebagai orangtua, Mama juga disibukkan dengan berbagai pekerjaan rumah maupun kantor. Tak jarang, saat tiba waktunya menjemput anak sekolah, Mama datang terlambat. Nah, meskipun sekolah anak memiliki petugas keamanan dan tempat yang aman untuk menunggu jemputan, terlambat menjemput anak bukanlah hal bijaksana untuk dilakukan secara terus menerus. Jika Mama sering terlambat menjemput si Kecil, ia akan merasa sedih karena sebagian besar teman-temannya sudah dijemput. Selain itu, hal tersebut dapat membebani tugas guru untuk menyiapkan segala yang dibutuhkan untuk pembelajaran esok harinya. Cobalah untuk selalu menjemput si Kecil tepat waktu ya, Ma!


Source: Pexels/Daria Shevtsova

3. Pakai Baju yang Sopan
Sekolah si Kecil biasanya memiliki banyak kegiatan yang mengundang orangtua untuk ikut serta berperan aktif. Oleh karena itu, Mama jadi sering pergi ke sekolah si Kecil. Sebelum pergi, pastikan Mama menggunakan baju yang sopan, ya. Mungkin setiap sekolah memiliki peraturan khusus terhadap bagaimana orangtu berpakaian. Namun, pastikan untuk menggunakan pakaian yang nyaman dan pantas dikenakan untuk bertemu guru si Kecil maupun para Mama yang lain ya, Ma.

4. Berkomunikasi dengan Guru
Guru merupakan orangtua kedua anak selama berada di sekolah. Dengan begitu, guru merupakan partner Mama dalam mendidik anak. Mama harus sering berkomunikasi dengan guruterkait dengan perkembangan si Kecil maupun tentang apa saja yang erlu menjadi perhatian bersama seperti kesehatan anak atau sikap anak dalam berteman dan lain sebagainya. Hindari memberikan komplain tanpa berdiskusi terlebih dahulu ya, Ma. Sebaiknya, libatkan guru sebagai partner berdiskusi yang baik tentang anak.

5. Rayakan Ulang Tahun Secara Sederhana
Jika Mama memiliki keinginan untuk merayakan ulang tahun anak di sekolah, pastikan bahwa kegiatan ulang tahun tersebut sangat sederhana dan tidak mengganggu aktivitas belajar di sekolah. Fokuslah pada tujuan bersyukur dan berbagi di hari ulang tahun anak, tidak perlu merayakannya secara besar-besaran. Mama bisa memanfaatkan waktu snack time atau break untuk menyelenggarakannya. Hindari membawa banyak properti, apalagi jika Mama meminta tolong guru untuk menyiapkan segalanya. Namun, sebaiknya Mama bertanya dulu mengenai peraturan perayaan ulang tahun di sekolah anak ya, Ma.


Source: Pexels/Christina Morillo

6. Gunakan Bahasa yang Baik
Saat berkomunikasi dengan guru maupun semua staf di sekolah si Kecil, pastikan Mama menggunakan bahasa yang baik dan benar. Bertutur kata dengan bahasa yang baik membantu Mama menyampaikan maksud perkataan Mama dengan lebih jelas. Selain itu, hal tersebut tentu mampu meminimalisir kesalahpahaman antar pihak sekolah dan Mama. Perlu diingat juga, jika si Kecil bersekolah di sekolah internasional, maka Mama pun disarankan untuk berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris. Pastikan juga Mama selalu menjaga emosi dalam berkomunikasi dengan pihak sekolah ya, Ma.

7. Percaya dan Bekerjasama dengan Guru
Seperti sudah disinggung di poin keempat, guru merupakan partner Mama dalam kaitannya dengan perkembangan si Kecil di sekolah. Untuk itu, bangun relasi dan kepercayaan yang kuat satu sama lain sehingga tujuan pendidikan anak tercapai. Jangan ragu untuk bertanya dan berdiskusi dengan guru terkait hal-hal yang bisa dilakukan Mama di rumah untuk menunjang keberhasilan si Kecil. Percayalah, guru akan merasa sangat senang dan terbuka jika Mama mau bekerjasama demi perkembangan si Kecil.

Intinya, jangan segan untuk aktif terlibat dalam pendidikan si Kecil ya, Ma. Bangun relasi yang baik dengan pihak sekolah dan para Mama yang lain, serta mulai berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan sekolah. Jangan lupa untuk selalu bersikap dan berkomunikasi yang baik dengan pihak sekolah, karena sekolah butuh peran Mama untuk tercapainya tujuan pendidikan si Kecil.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kata orang, menjadi Ibu itu seru. Kata orang, menjadi Ibu itu melelahkan. Kata orang juga, sejak jadi Ibu banyak hal yang berubah. Mulai dari preferensi makan, jam tidur, preferensi barang belanjaan, dan masih banyak lagi. Masih kata orang juga, si Ayah bakal jadi nomor dua setelah tergeser oleh anak yang menduduki peringkat pertama daftar prioritas Ibu. Tapiii, bener begitu nggak sih?
Kalau kata saya nih, menjadi Ibu bagai terlahir jadi pribadi yang baru. Jadi, kemarin waktu lahiran bukan si bayi aja yang lahir, tapi saya juga. Bedanya, saya nggak nangis oek-oek, cuma nangis haru aja diem-dieman, yang denger juga cuma suami. Namanya “terlahir jadi pribadi yang baru” tentu saja ada beberapa hal yang berubah dari diri saya yang sebelumnya. Bukan hanya tentang sifat saja namun juga sikap.

***

Saya dulu orangnya sangat nggak sabaran. Sejak punya anak, yah, lumayan berkurang walau masih agak nggak sabaran juga kadang-kadang. Saya dulu suka banget belanja barang fashion sama make up. Sekarang, baju baru? Apa itu? Yang ada, baju bayi baru, buku bayi baru, mainan bayi baru. Gitu. Kalau dulu saya di rumah aja selalu pakai bedak dan lipbalm sehabis mandi, sekarang, ya ampuuun bisa mandi aja puji Tuhan! Resmilah saya jadi “mak-mak berdaster” tiap harinya.

Source: pexels.com


Walaupun sudah banyak hal yang berubah, namun Clara bukan Clara namanya kalau nggak impulsif. Dan hal ini kadang-kadang membawa Clara pada kemalangan tapi kadang-kadang juga keuntungan. Ceritanya, saya memang sudah memutuskan untuk jadi ibu rumah tangga aja, atau bahasa hits-nya sekarang “full time mom.” Namun, pada kenyataannya, saya sekarang menjadi “working mom.” Kok bisa? Ya karena….impulsif! Saat cuti melahirkan kemarin, saya memang sekalian resign dari tempat kerja yang lama karena pindah domisili ke luar kota. Namun, di tengah-tengah masa tidak bekerja yang sungguh indah itu, entah kenapa ada teman yang membagikan info lowongan pekerjaan melalui WhatsApp messenger. Jadi guru Bahasa Inggris. Di Malang. “Wah, boleh juga nih,” pikir saya kala itu. Dan karena sekarang teknologi udah makin canggih sampai-sampai semua file penting saya ada di “awan” alias cloud drive, saya saat itu tinggal kirim-kirim e-mail saja, ya apalagi kalau nggak melamar pekerjaan guru di Malang itu! Nggak bilang suami, lagi. Salah besar saya.

Malangnya, atau untungnya, lamaran pekerjaan saya di-follow up. Dan mau nggak mau saya harus bilang suami. Eh, dia iya iya aja nggak marah. Cuma, dia bertanya satu hal pada saya, “Kamu yakin?” Ini pertanyaan susah banget ya jawabnya. Satu pertanyaan tapi sebenernya kumpulan dari berbagai macam pertanyaan seperti “ntar Ale gimana”, “kamu bisa manage waktu nggak”, “udah siap ngajar lagi belum”, “kenapa mau kerja”, “apa yang dicari”, dan lain sebagainya. Konyolnya, dengan impulsif (lagi) saya menjawab “Yakin.” Titik. Daaaan, suami saya menjawab “Ya sudah kalau kamu yakin. Datang aja dulu,” Singkat cerita, akhirnya saya menjadi guru part-time yang hanya datang saat mengajar. Jadi, nggak full satu minggu harus datang, melainkan hanya tiga hari saja.

Selama tiga hari tersebut, saya selalu bangun pukul 4 pagi, mandi, (di awal-awal saya menyiapkan bekal saya dan suami, namun sekarang sudah tidak, karena ternyata sungguh melelahkan), lalu menyiapkan barang-barang anak yang akan dibawa ke Pakde dan Bude saya atau Opa dan Omanya Ale. Lalu pukul setengah 6 saya sudah harus berangkat ke sekolah karena sekolah tempat saya mengajar sangat jauh dari rumah, dan saya masuk pukul 6:27. Selesai sekolah, masih ada pelajaran tambahan sehingga saya baru caw pulang dari sekolah sekitar jam setengah empat dan sampai rumah sekitar jam setengah lima sore. Hampir 12 jam, ya? Lalu selesai berperan menjadi guru, saya berperan menjadi istri dan ibu di rumah. Beres-beres rumah, mandiin Ale (saya mandi juga barengan), cuci piring sisa pagi yang tidak pernah sempat dicuci, dan masak untuk makan malam. Begitu selama tiga hari setiap minggunya. Dan rasanya sungguh melelahkan, inside out.

Jarak tempuh yang terlalu jauh, rasa rindu kepada anak, dan segala tetek bengek kepikiran anak yang nggak kunjung selesai, bikin bekerja jadi terasa penuh beban. Ada penyesalan dalam benak saya meninggalkan anak yang masih kecil untuk bekerja, yang saya juga nggak tahu untuk apa. Mungkin orang bisa berkata bahwa wanita harus bekerja untuk jaga-jaga, atau untuk bisa mandiri. Saya setuju, hanya mungkin bukan sekarang waktunya. Dan kalaupun tujuannya untuk “mencari uang” mungkin saya akan memilih untuk melakukannya dari rumah saja, tanpa harus meninggalkan anak. Karena, anak saya selucu, seimut, semenggemaskan, sengangenin itu untuk ditinggal kerja. Halah, lebay. Ya gimana? Kan nggak ada kecap nomor dua?

Dari situ saya belajar, bahwa hidup baru sebagai Ibu tidak melulu indah, tidak melulu tentang menjadi pribadi yang lebih baik. In my case, somehow I feel that I failed. For not being able to prepare my husband’s lunchbox every day, for not being able to finish all household things in a day, for not being able to be by my baby’s side every time, for not being able to see every milestone my baby makes each day, for not being perfect. Tapi satu hal yang suami saya selalu bilang ke saya despite everything, “You have done enough, Bun. And I’m thankful for it.” Hampir setiap hari suami saya berterima kasih ke saya, and it means a lot to me.  Literally.

My new life as a mom memang saya sibukkan untuk meratapi ketidakmampuan saya menjadi Ibu yang baik. Banyak hal berubah dan saya ternyata membutuhkan waktu yang lebih lama ketimbang banyak Ibu baru untuk beradaptasi dengan banyak perubahan tersebut. Yes, I am suck at it. All I think about is my family, dan ketakutan terbesar saya adalah tidak memberikan yang terbaik bagi mereka.
Banyak yang masih harus saya benahi sebagai seorang Ibu dan Istri, dan sejauh ini saya menikmati segala prosesnya. Meskipun tidak sempurna, saya seorang Ibu yang bahagia kok! 

Dan, highlight dari tulisan saya kali ini adalah, bahwa nggak ada Ibu yang sempurna jika dibandingkan dengan Ibu-ibu yang lainnya. Tetapi percayalah, you're just perfectly enough for your family, Bu.. Dengan menyadari dan merangkul perasaan tersebut, harapannya saya dan Ibu-ibu lainnya bisa memahami bahwa dengan merasa bahagia karena hal sederhana seperti bisa berkumpul dan bersenang-senang dengan keluarga itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi seorang ibu yang baik. Hal tersebut seperti bahan bakar kita para Ibu untuk terus mencurahkan energi positif dalam apapun yang kita lakukan. Jadi, semoga para Ibu di dunia ini selalu berbahagia ya! Karena Ibu adalah poros yang harus selalu kuat meskipun diterjang badai sekencang apapun. 


XOXO,
Clara
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar

“Kakak, lahirnya nanti nunggu Ayah dateng aja, ya,”
“Kakak, kalau mau keluar, kasih kode ya, Kak, misalnya tendang-tendang tiga kali gitu…”
“Kakak nanti keluarnya di waktu yang pas, ya, terserah kakak yang penting kakak siap,”
Sounds silly, tapi memang benar saya mengajak bicara anak saya persis seperti itu tentang kelahirannya, saat dia masih di dalam perut.

***
Di usia kehamilan menginjak 9 bulan, saya semakin cepat merasa lelah. Lha wong, saya naik 20 kilo. Apalagi saat itu saya sudah cuti melahirkan. Kegiatan saya di rumah jadi banyak tidurnya. Bangun, jalan-jalan sebentar, pulang ke rumah, eh Mama mertua sudah selesai masak. Lalu saya makan, mandi, siapin suami mau berangkat kerja, laluuuu… tidur! Kalau nggak, paling saya nonton serial Si Doel yang sedang ditayangkan lagi di televisi. Yah, sambil nostalgia sama tontonan keluarga paling dinanti waktu masih kecil gitu. Terus, kalau tenaga sudah cukup, saya masak untuk makan siang suami, karena suami selalu pulang ke rumah untuk makan siang. Begitu suami sudah kembali lagi ke kantor, saya kebingungan mau ngapain. Karena, Mama dan Papa mertua pasti sudah berangkat ke rumah kebun di desa.

Kenapa kok saya malah memilih lahiran di rumah mertua, bukan di rumah orang tua saya sendiri? Banyak sekali pertanyaan seperti itu dari orang-orang sekitar saya. Ya, karena, orang tua saya ada di Kalimantan. Sejak kecil, saya tinggal bersama Kakek dan Nenek saya. Dan saat itu, Kakek dan Nenek saya juga sibuk mengurus adik sepupu saya yang usianya masih 2 tahun. Selain itu, saya kepengen ditungguin sama suami dan udah boseeeen banget LDR melulu. Jadi, maunya lahiran ada suami, ngurus anak juga ada suami. Karena itulah saya memilih untuk lahiran di Malang.
Saat menginjak 9 bulan, cacar saya sudah sembuh, hanya tinggal bekasnya saja yang belum hilang. Jadi, saya sudah berani keluar rumah dan rajin jalan-jalan sama temen-temen, yang jadi solusi dari kebingungan saya mau ngapain pas suami udah selesai makan siang. Yup, jadi gitu, saya jadi rajin ngabisin waktu jalan-jalan di mall atau sekedar beli milkshake di kafe. Bergelas-gelas. Dengan pancakes berpiring-piring. Agak lebay, tapi ya gitu, makan minum melulu. Dan gak kelupaan, gigitin es batu!

***

Suatu hari, suami saya harus pergi ke Surabaya, dan Mama-Papa mertua lagi pergi kondangan ke Bandung. Saya bingung, sama siapa ntar di rumah. Bukannya takut, cuma saya jaga-jaga aja kalau-kalau ada emergency situation. Akhirnya, saya undanglah teman-teman saya ke rumah. Sudah izin mertua dan suami juga, tentunya. Pukul 04.00 pagi, suami saya sudah berangkat ke Surabaya. Sambil elus-elus perut, suami saya berpesan “Kakak, kalau mau lahir nunggu Ayah aja, ya, Ayah ke Surabaya dulu ya Kak. Baik-baik di rumah sama Ibu, ya,”

Lalu, saya belanja sayur-mayur dan lauk. Pagi-pagi saya sudah selesai masak, karena jam 09.00 teman saya akan datang. Lalu kami makan-makan, leyeh-leyeh, cerita-cerita, sampai akhirnya sore hari Suami sudah datang. Dan, teman-teman saya pun pulang. Kami istirahat sebentar, lalu saya teringat kalau hari itu harusnya saya kontrol ke dokter kandungan.
“Mas! Aku lupa! Hari ini kan waktunya kontrol. Tapi aku belum daftar,”
“Ya udah, telepon rumah sakit sekarang ya,”

Singkat cerita, kami dapat nomor paling akhir. Kami memutuskan untuk pergi ke rumah sakit jam setengah sembilan malam saja, lah. Ya sudah, akhirnya kami sampai di RSIA Puri Bunda kira-kira jam setengah sembilan lebih sedikit dan masih harus menunggu sekitar tiga antrian lagi. Tidak lama, masuklah saya ke ruangan dokter Pande. Beliau melakukan USG seperti biasanya, lalu beliau kaget.
“Bu, perutnya nggak sakit?”
“Nggak, tuh dok,”
“Masaa?”
“Iya, kenapa dok?”
“Ini sudah masuk jalan lahir Bu. Bayinya sudah mau keluar, setelah ini jangan pulang ya, langsung ke UGD dicek bukaannya,”

Langsung kaget dong saya dan Pak Suami. Untungnya hospital bag udah lama siap di mobil, jadi nggak khawatir. Selesai dari ruangan dr. Pande, pukul 22.00 malam saya langsung menuju UGD, diperiksa bidan dan katanya saya sudah bukaan 1. Diobservasi lagi selama 4 jam, jadi saya disuruh menunggu. Saya menunggu di RS sambil chattingan melalui WhatsApp dengan teman-teman saya. Sambil ngabarin kalo saya udah bukaan 1, eh, ujung-ujungnya malah becandaan sampe perut saya sakit bukan karena bukaan, tapi karena ketawa terlalu kenceng gara-gara mereka. Sungguh nikmat rasanya :D

Di sela-sela menunggu, saya juga masih streaming drama Korea yang lagi hits saat itu, Waikiki. Becandaan di grup WA ditambah nonton Waikiki, ketawa saya yang udah kenceng jadi makin kenceng! Dan ajaibnya, nih perut gak bergejolak sama sekali. Tapiii, pas handphone saya mati karena batere abis, nahloh, langsung kerasa sakitnya. Saat itu pukul 23.00 malam, saya boseeen banget nunggu di RS. Saya tanya Bu Bidan di UGD boleh pulang bentar apa enggak, katanya sih ga boleh ya. Tapi saya keukeuh karena saya mau nunggu sambil gegoleran aja di kasur, toh rumah juga ga sampe 5 menit udah sampe. Akhirnya, dibolehin lah saya pulang, dengan catatan jam 2 dini hari harus kembali untuk cek bukaan lagi. Baik.

Sampai di rumah, perut saya mulai ngga karuan rasanya. Masuk ke kamar mandi, niatnya mau cuci tangan-kaki abis dari luar, terus lihat ada cucian sedikit di ember. Ya udah lah ya, nyuci bentar ga masalah kan ya. Hahahahahaha. Jadilah, abis nyuci saya tidur sambil ngecas hape, tetep ya. Di situlah perut yang udah sakit jadi semakin sakit! Suami akhirnya pijet-pijetin tangan saya supaya rileks, tapi saya maunya dielus-elus aja perutnya. Ya udah, akhirnya suami elus-elus perut saya, sambil saya nangis ga tahan sakitnyaaaa. Jam setengah 2 dini hari, kami berangkat ke RS. Dicek, dan bukaan saya ternyata masih bukaan 2. Saya kok sedih, sesakit itu tapi bukaan baru nambah 1, huhuhuhu. Eh, baru aja dicek, air ketuban saya pecah! Waaaaa panik dong, saya langsung teriak-teriak manggilin Bu Bidan, “Bu Bidaaaan, basaaaah ini apaaaaa???” Norak banget ya? I know.

Dengan gercep, Bu Bidan langsung instruksikan suami saya untuk ambil underpad, dan saya diangkat ke kursi roda untuk diantar ke ruang bersalin. Dengan bodohnya, saya pakai nanya “Loh Bu Bidan, emang saya mau lahiran sekarang?” Dan dengan emosinya, Bu Bidan jawab, “Ya iya, Mbak!” Yahhh kena marah deh ya. Ya udah, nggak papa. Namanya juga lahiran newbie ya kan. Sesampainya di ruang bersalin, sakitnya semakin menjadiiii, saya mengerang-erang kesakitan, sambal memlintir punggung suami saya pakai satu tangan. Hebat, ya? Saat itu rasanya hanya sakit, dan saya gak tahan banget. Itu aja sih yang saya tau. Semacam nggak ingat harus ngapa-ngapain aja di saat-saat bukaan kaya gitu. Saya teriak-teriak juga dengan noraknya. Sekali dua kali Bu Bidan mengingatkan saya, "Jangan ngeden, Mbak!” Saya pun masih punya kekuatan untuk menjawab, “Loh, saya nggak ngggg…..eeed…en, Bidan!”
“Lah itu namanya ngeden, Mbak!”
Padahal saya cuma mengerang aja kok. Nggak ngeden. Saya sadar saya ngeyel terus, akhirnya saya bilang, “Saya jangan dimarahin terus dong…” Seketika itu juga Bu Bidan tersenyum sambil berkata dengan lembutnya, “Ya ampun, Mbak, saya nggak marah, soalnya kasian dedeknya ntar kalo Mbak ngeden-ngeden melulu,”

Akhirnya, sakit yang luar biasa itu intensitasnya semakin bertambah, dan keluarlah cairan ketuban kedua kalinya sekitar kurang lebih pukul 03.00 pagi. Saat itu juga dua bidan dengan sigap membawa segala peralatan ke dekat bed saya daaannn mereka membantu saya bersalin.
“Ingat ya Mbak, atur nafas aja jangan ngeden ya,”
“Tapi saya nggak bisss…saaaaa,” sambil mengerang kesakitan.
“Bisa-bisa, ayoo…”
*saya terus mengejan sambal berusaha atur nafas*
“Nah itu kepala adeknya udah kelihatan, ayo semangat atur nafasnya ya,”

Singkat cerita, kepala yang sudah keluar sedikit itu, masuk lagi ke dalam dan saya harus berusaha lagi supaya si bayi keluar dengan aman dan selamat. Akhirnyaaaa, di pukul 03:46 pecahlah tangisan bayi yang saya idam-idamkan itu, dan Bu Bidan langsung meletakkannya di atas dada saya. Sungguh haru rasanya. Namun, belum berhenti sampai di situ, Bu Bidan berkata, “Mbak maaf ya dipegangin ya adeknya, ini Mbak pendarahan soalnya, banyak sekali, saya bantu ya Mbak,”

Saya langsung nggak fokus dan lemas, dan akhirnya Inisiasi Menyusui Dini (IMD) saya hanya berlangsung singkat. Seketika itu juga Bu Bidan mengambil bayi saya demi alasan keselamatan. Setelah itu saya disuntik, dan saya nggak sadar lagi. Tertidur pulas sampai pukul 06.00 pagi. Setelah itu saya dipindahkan ke kamar and reunited dengan bayi mungil saya. Setelah itu, saya tersadar, “Nih anak nurut banget sama bapaknya. Disuruh nungguin sampe doi pulang, eh, beneran dong. Doi pulang dia lahir!”


My Bayi Bundar


Rasa sakit yang luar biasa itu sungguh nggak akan bisa saya lupakan. Dan momen menggendong anak pertama saya juga sungguh luar biasa. Rasanya, walaupun sakitnya luar biasa seperti itu, tapi soooo beautiful dan saya mau lagi kok kalau disuruh melahirkan lagi. Suer! Hahahahaha.. Yang terpenting dan selalu saya syukuri, si bayi mampu memilih sendiri kapan dia akan hadir ke dunia. Dan semua terjadi dengan penuh keselamatan dan kesukaan. 

Cheers to all the moms out there!

Clara.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Setelah dikonfirmasi oleh dokter kandungan bahwa saya positif mengandung dengan usia kehamilan 4W, saya menjadi lebih siap menjalani kehamilan pertama ini, walaupun harus dijalani secara berjauhan dengan suami.

***

Dokter bilang saya beneran hamil karena udah kelihatan kantong hamilnya. Saya senang bukan main, mulai cerewet nanyain ini itu ke dokter, dan seperti kebanyakan dokter yang menghadapi euforia kehamilan pertama pasiennya, dr. Robby Budilarto pun menjawab dengan santai segala pertanyaan yang muncul dan membuat saya merasa tenang.
"Dok, boleh nggak sih kalau saya terusin yoga?"
"Boleh. Kenapa enggak? Aktivitas yang biasa dilakukan, lakukan saja senyamannya,"
"Oh gitu ya. Kalau naik motor, gimana dok?"
"Ya kalau biasanya naik motor, tetap naik motor saja. Pokoknya kebiasaan olahraga, mobilitas, dilakukan saja seperti biasa. Kalau capek, istirahat. Itu yang penting."
"Kalau makanan gimana dok?"
"Ya kalau makanan, yang penting jangan seafood seperti kerang, dan lainnya ya. Apalagi yang dari perairan Gresik. Banyak timbalnya. Gak baik."
"Ooooh gitu. Baik, dok!"
Kira-kira seperti itulah gambaran percakapan kami saat itu.

Awal-awal hamil, masih sanggup main ke pantai

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Percaya nggak percaya, akhirnya hamil juga. Setelah drama berhari-hari kenapa hasil tesnya selalu negatif, akhirnya positif juga.

***

Oke, jadi dari awal menikah, saya dan suami tidak mau menunda kehamilan karena sebuah alasan sederhana: parno. Ya, saya yang parno sih lebih tepatnya. Karena memiliki riwayat masalah hormonal di mana seringkali saya mengalami pendarahan di luar menstruasi, saya memutuskan untuk tidak menunda-nunda kehamilan. Hal ini karena menurut beberapa sumber (yaitu dokter kandungan, teman saya yang seorang suster, dan teman lainnya yang juga mengalami riwayat yang sama dengan saya), wanita-wanita dengan riwayat hormonal bakal susah hamilnya. Jadilah saya termakan dengan asumsi tersebut dan berujung pada, "Oke mas. Aku nggak mau nunda hamil ya," Pak Suami pun sama sekali tidak menolak~

Hasilnya, sebulan setelah menikah saya sudah hamil. Kaget? Iya. Seneng? Iya. Was-was? Iya banget. Kaget karena cepet banget. Seneng karena kemakan euphoria pasca menikah aja, dikit-dikit beli test pack, kalau strip masih satu jatohnya galau, terus begitu muncul dua strip girang gak ketulungan. Was-was karena bingung! Nahloh. Gak kepengen menunda tapi begitu langsung dikasih jadi bingung. Ngerasa nggak siap banget secara makan masih ngawur, pola hidup masih belum bener, masih kepengen 'pacaran' dulu sama suami, dan yang paling menguras pikiran nggak lain dan nggak bukan adalah: saya dan suami masih LDR, dengan situasi saya masih indekos pula. Huahhhh.... Kalo boleh milih pengennya pas sudah literally seatap sama suami sih. Tapi dasar manusia ya. Nggak ada rasa bersyukurnya. Akhirnya, saya merasa bahwa dengan kondisi saya dan suami yang masih 'seperti ini', Tuhan merasa kami siap menyambut anggota baru di tengah keluarga kami. Jadi, dari semangat itulah kami berdua berusaha sebaik mungkin menata kembali pola hidup, menjaga kehamilan, dan tentunya saling mendukung yang lebih ekstra daripada biasanya.

Saat itu, saya pengen memberi sedikit kejutan pada suami dengan tidak langsung memberitahunya bahwa saya sudah mengandung. Skenarionya, karena saat weekend dia pasti mengunjungi saya ke Surabaya, saya ingin berdandan cantik dan memberinya sekotak hadiah yang isinya berupa test pack saya. Namun, karena dia saat itu terjebak macet dan saya harus menunggunya beberapa jam lebih lama, saya mulai kelaparan dan berujung cranky. Akhirnya saya hampir menangis menelepon suami "Aku ini hamiiil. Aku lapeeeerrrrr!!" Dan tentu saja suami langsung panik, tancap gas lebih dalam dan 30 menit kemudian sampailah dia di depan kos saya. Hahahaha... Kalau diingat-ingat, ngapain juga saya jadi aneh begitu, ya? Ujungnya, surprise pun gagal terlaksana. Tapi tetap saja saya berikan karena sudah saya siapkan juga malam harinya. Sayang kalau akhirnya dibuang, kan.






I know he's not into this kind of surprise-thingy, but he still blushed when opening this, though.


Setelah membuka ini, tentu saja, ada drama berpelukan. Kami sesenang itu menyambut kehamilan pertama ini. Suami pun langsung mengecek jadwal praktik dokter kandungan di Surabaya yang masih buka saat malam hari. Satu per satu kontak dokter kandungan yang kami dapat dari Google langsung kami hubungi. Singkatnya, malam itu kami akhirnya memutuskan untuk menemui dr. Robby Budilarto di Jl. Kartini. Tujuannya? Tentu saja untuk memastikan bahwa hasil dari test pack sama dengan pendapat dokter, serta berkonsultasi mengenai banyak hal, terutama tentang makanan dan berkendara, karena ini pengalaman pertama kami menyambut kehamilan.

Sampai di tempat praktik pukul 8 malam, saya baru masuk ke ruang konsultasi pukul 10. Lelah, ngantuk, pegal, semua terbayar ketika bapak dokter mengatakan bahwa saya benar hamil, sembari menunjukkan satu titik pada layar USG yang merupakan "kantong kehamilan". Dokter juga mengatakan bahwa sejauh ini kondisi saya sehat, makan apa saja boleh tidak ada pantangan kecuali boga bahari dari laut utara (Gresik, Surabaya) karena mengandung merkuri yang tinggi. Selain itu, saya juga disarankan untuk tetap beraktivitas seperti biasa, tetap boleh berkendara dan tetap melanjutkan rutinitas Yoga saya.

Foto USG pertama yang menunjukkan kantong kehamilan saya.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke Gresik (rumah orangtua saya) sampai larut malam dan kemudian beristirahat. Tentu saja kami senang sekali, walaupun kami harus menjalani LDR lagi keesokan harinya. Saat suami saya kembali ke Malang, saya langsung menangis. Saya takut nggak sanggup menjalani kehamilan tanpa kehadiran suami saya setiap hari. Tapi, saya harus semangat, harus bahagia, karena ada satu makhluk kecil di dalam tubuh saya yang juga berhak untuk bahagia. Maka dari itu saya putuskan untuk menjalani kehamilan ini dengan santai. Dengan begitu, beban berat pun tidak lagi menjadi berat.

Karena perjalanan ini begitu panjang, cerita kehamilan saya bersambung di postingan selanjutnya, ya!


XOXO,
Clara


Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar

It was such a miracle. It is a miracle. And it will be a miracle for both of us. Jatuh cinta itu tidak mudah. Setidaknya, itulah yang kami alami. Kami sama-sama jatuh cinta, sama-sama ingin bersama, tapi ada belenggu besar di antara kami saat itu. Perbedaan sangat besar yang membuat kami bertanya-tanya, akankah impian hidup bersama bisa menjadi nyata? Nyatanya, bisa.

...

Setelah kemelut panjang, perdebatan tak berkesudahan, beribu isak tangis dan air mata, akhirnya kami memutuskan untuk menikah. Keputusan besar yang mengubah hidup kami. Kami melangsungkan pernikahan secara sederhana, dengan waktu persiapan hanya kurang lebih tiga bulan saja. Heboh, capek, tapi senang. Banyak miskomunikasi di sana-sini tapi puji Tuhan sampai hari H semua aman terkendali.







Karena pernikahan kami begitu sederhana, orang-orang yang diundang pun hanya teman dekat dan keluarga. Baju pengantin wanita saya gambar sendiri, cari kain sendiri, lalu saya setorkan ke penjahit langganan untuk menekan biaya. Undangan pun begitu. Saya desain sendiri, lalu saya setor ke percetakan untuk dicetak. Kebetulan kami membuat dua macam undangan, satu undangan resepsi (yang dicetak di percetakan), dan undangan pemberkatan. Alasan kami membuat dua macam undangan tidak lain karena tidak semua yang kami undang ke resepsi, kami undang pula ke acara pemberkatan. Kami juga merasa, dengan membedakan undangan, maka para undangan akan merasa spesial, karena para undangan pemberkatan juga merupakan orang-orang yang dekat dengan keluarga kami.



Lokasi yang kami pilih adalah sebuah restoran dengan gaya joglo, sehingga konsep pernikahan Jawa yang akan kami langsungkan bakal terasa lebih kental suasana Jawa-nya. Tentu saja, makanan pun kami pesan di restoran tersebut untuk efisiensi. Tenang, kami tidak asal pilih restoran, kok. Kami sampai berkali-kali food testing karena memang cita rasa masakannya enak. Hihihi. Nama restoran yang kami pilih adalah restoran Joyo Hartono, berlokasi di dekat Kantor Bupati Gresik. Restoran tersebut sangat fleksibel dalam mengabulkan permintaan pelanggan. Saat itu, kebetulan di tanggal yang sama dengan pernikahan saya, restoran sudah di­­-book untuk acara pernikahan juga di pagi hari. Namun, beruntungnya pihak restoran menyanggupi melaksanakan pernikahan kami pada malam harinya. Sungguh luar biasa.




Berkaitan dengan adanya pernikahan di tempat yang sama di pagi harinya, dekorasi yang kami pesan pun ndilalah dari tempat yang sama dengan dekorasi acara paginya. Jadi, Salon Ceha, tempat kami menyewa dekorasi, menyanggupi untuk mendekor venue untuk acara malam hari. Karena hal itulah, saya dapat bonus salah satu elemen dekorasi yang sebenarnya tidak saya pesan. Ini juga luar biasa, kan?

Untuk souvenir, kami sengaja memilih sumpit karena ada pesan tersirat di balik sepasang sumpit. Ya, apalagi kalau bukan “sumpit harus berpasangan, fungsinya tidak maksimal jika hanya satu batang saja”. Sama seperti suami istri, harus selalu berpasangan dan tidak dapat terpisahkan. Ceilaaah. Souvenir ini kami beli secara online, lalu kami hias sendiri. Pokoknya yang bisa dikerjakan sendiri, pasti kami kerjakan sendiri.

Ah, mengingat masa-masa pernikahan bikin kembali deg-degan. Tentu saja banyak konflik, perdebatan, tapi perjuangannya nikmat sekali. Apalagi keluarga besar saling bahu membahu membantu pernikahan kami terlaksana dengan baik. Fix jadi momen paling spesial dan tak terlupakan buat kami berdua.

Ibuku juga jauh-jauh datang dari Kalimantan untuk hadir di pernikahan kami. Dan, hari itu, 9 Juli 2017, semua orang nampak bahagia. Kakak perempuanku juga dengan tulus melepasku untuk menikah mendahuluinya. Tentu saja ada ritual yang membuat kami berpelukan, menangis, namun sungguh bahagia. Karena, sejatinya kakak perempuanku adalah kakakku sekaligus teman sekaligus orangtua bagiku. Tidak mudah, tentu, untuk menikah mendahuluinya. Namun dengan penuh kerendahan hati kami berdua pun mampu menghadapinya.




Semua keluarga bahagia, semua undangan bahagia, pasangan pengantin pun bahagia.

Share
Tweet
Pin
Share
3 komentar
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Kalau diingat-ingat, kapan sih terakhir kali kita memuji sesama teman perempuan kita dengan tulus? Atau, kapan terakhir kali kita berpikiran positif terhadap teman perempuan kita?

...

Sebagai perempuan, rasanya wajar ya jika kita sering ngobrol bersama sesama teman perempuan, entah tentang pekerjaan, tentang rumah tangga, atau hanya sekadar berbagi info diskon Jumat-Sabtu-Minggu di supermarket-supermarket terdekat. Setidaknya, saya menikmati momen ngobrol bersama teman-teman perempuan saya. Karena, topiknya begitu beragam, luas sekali sampai-sampai terkadang kita sendiri lupa tentang topik awal yang dibicarakan. Loncat dari satu topik ke topik yang lain bisa terjadi begitu cepat hingga rasanya tak ingin berhenti mengobrol. Apalagi kalau pasangan sudah mulai menelepon, tanda bahwa obrolan harus segera berakhir, bikin tempo bicara kita super cepat dan puncaknya adalah: janjian ngobrol lain waktu!

Sejatinya, sikap perempuan yang doyan ngobrol ini lies in every woman's soul, hanya saja setiap perempuan punya cara mengeksplor "bawaan" tersebut dengan berbeda. Ada perempuan yang lebih suka mengobrol tentang hal-hal yang 'penting' kepada orang-orang yang juga penting bagi mereka. Sementara, ada pula perempuan yang suka sekali membicarakan banyak hal kepada banyak orang juga. Tapi, ada juga di antara kita, para perempuan, yang lebih suka menjadi pendengar daripada ikut-ikutan ngobrol.

Masalahnya, obrolan-obrolan para perempuan terkadang mengandung substansi yang cukup merugikan. Terkadang, kita jadi kelewatan ngomongin sesama teman perempuan kita sendiri. Kalau sudah seperti itu, rasanya kita ini manusia yang jalan hidupnya udah paling bener, deh. Judge sana, judge sini. Dilengkapi dengan bumbu-bumbu instan yang membuat obrolan makin sedap walau sebenarnya tak sehat. Kalau ditanya, 'sadar nggak sih kita ngobrol tentang hal yang negatif?' tentu jawabannya, 'sadar banget!' tapi kembali lagi, habisnya asyik sih yaaa ngobrolin orang lain. Berasa nggak ada habisnya gitu loh ngobrolin kejelekan orang lain. Belum hilang dari ingatan kenyinyiran yang kemarin, eh hari ini udah nyinyir lagi dong.

Saya sadar saya juga sering ngobrol-ngobrol nggak penting yang ujung-ujungnya bikin saya makin pinter. Iya, pinter nyari-nyari kesalahan orang lain. Tapiii, belakangan ini saya semacam mendapatkan hidayah bahwa sebenarnya apa yang saya lakukan selama ini salah *pasang bekgron musik rohani*. Dan untuk itu, saya mencurahkan segala kegundahan saya terhadap nyinyirnya sesama perempuan melalui tulisan ini. Disclaimer dulu ya, di sini saya tidak memposisikan diri sebagai yang paling benar, malah, harapan saya, kita sesama perempuan bisa saling mendukung dengan tulus dan positif tentunya, tanpa harus meninggalkan fitrah kita yang 'suka ngobrol'.

...

Jadi, saat saya menulis tulisan ini, saya sedang mengandung anak pertama. Dalam perjalanannya, saya banyak sekali mendengar komentar-komentar banyak orang tentang kehamilan saya. Awalnya, saya sangat berterima kasih karena banyak orang yang rasanya sangat peduli terhadap kehamilan saya, banyak yang memberi advice mengenai kehamilan hingga persalinan, sampai banyak juga yang memberi saya makanan gratis. Terima kasih, kawan. Namun, berangsur-angsur, komentar-komentar yang awalnya saya terima dengan positif jadi semakin terdengar negatif. Entah kenapa saya jadi gusar ketika mendengar berbagai komentar dari beberapa teman perempuan. Contohnya:
"Kamu hamil 5 bulan apa 7 bulan sih kok gede banget perutnya?"
"Untung ya dulu waktu aku hamil sehat-sehat aja dan nggak rewel,"
"Jangan gede-gede itu perut ntar lahirannya susah, loh""
"Payudaramu kok kecil? Ntar anaknya susah nenen, loh"
"Kok kamu usia kandungan 7 bulan belum keluar dikit-dikit ya ASI-nya? Dulu waktu aku hamil 5 bulan udah mulai keluar tuh!"
Dan lain sebagainya.

Listen up, girls, moms, and all women out there. First, saya hamil jadi wajar kalau perut saya besar. I have no control of how big my tummy will become during my pregnancy. Andai ada tombol pengaturannya mungkin perut saya nggak akan segede ini. Second, kondisi setiap ibu hamil berbeda,ada yang tetep giras sampai H-1 kelahiran, tapi ada juga yang dari awal hamil sudah bedrest, and again, we can't control that. We can only try our best to stay fit. For ourselves and for our babies. Third, honestly komentar tentang payudara itu stressor terberat saya. Untungnya setelah mendinginkan kepala dan banyak membaca, saya tahu bahwa nggak ada korelasi antara ukuran payudara dan jumlah ASI yang diproduksi. Saya hanya bisa berusaha mengonsumsi makanan yang juga baik untuk memperlancar produksi ASI, and stay positive. Fourth, can we just think before we say something? Kenapa? Karena ternyata komentar-komentar seperti itu yang saya percaya banyak di antara kita juga secara nggak sadar menyampaikannya, mampu membuat si penerima merasa kesal. And what can we do about that is to stop doing that. Kita, para perempuan, bisa banget kok jadi serangkaian support system yang saling berbagi hal yang positif. Oke, setidaknya bagi saya, komentar-komentar tersebut menjadi cambuk bagi saya untuk selalu berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara, untuk menghindari kesalah pahaman di antara kita, para perempuan, dan juga siapapun.

Selain masalah kehamilan, cara mendidik anak, cara berpakaian, pilihan menjadi full time mom atau ibu bekerja, dan juga cara membina rumah tangga, adalah hal-hal yang seringkali tidak luput dari komentar-komentar negatif. Seakan-akan, kita para perempuan ini sedang berkompetisi, sedang sibuk menunjukkan bahwa cara kita lah yang terbaik, yang pantas ditiru, sedangkan cara orang lain tidak patut ditiru. Apalagi di dunia media sosial seperti sekarang ini, berbagai aktivitas dapat kita bagikan, begitu pula berbagai kritik, saran, komentar, bisa dengan mudah kita sampaikan. With no filter added. Orisinil, aseli dari pemikiran kita yang kadang tidak tahu menahu tentang sesuatu, tahu-tahu komentar gitu ajah. Yang seperti itu rawan banget mengandung substansi yang negatif. Dan, parahnya, kita melakukannya secara tidak sadar. Main komentar tanpa mikir dulu, tanpa research dulu, akhirnya malah membuat hubungan pertemanan jadi nggak harmonis.

Sumber: Pinterest


Wahai para perempuan, yuk kita coba sama-sama untuk bisa saling mendukung satu sama lain. Dengan nggak dikit-dikit nyinyirin orang, dengan nggak dikit-dikit komentar tanpa pikir panjang, dengan memuji teman kita, dengan berpikiran positif terhadap mereka. Kalau bisa, choose only positive words ketika akan menyampaikan sesuatu. Kita sama-sama perempuan, sama-sama ngerti kan gimana nggak enaknya menerima komentar yang negatif? Nah, try to always see through other's point of view first sebelum berani melontarkan pendapat. Karena, nggak ada yang salah kok dengan being positive. Yang ada malah bikin orang lain jadi nyaman dan syukur-syukur kalau mereka bisa terinspirasi dengan ucapan kita. Mari sadar sebelum berbagi. Agar tidak ada lagi perempuan yang merasa tersakiti tanpa kita sadari.

Cheers to all women out there,
Clara.
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

About me

Trying to be sane all the time by being different persons and having different roles everyday. Sometimes I’m myself, sometimes I’m a mother to two sons, sometimes I’m a colleague and sometimes I’m a wife to my husband.

Follow Me

  • Twitter
  • Facebook
  • Instagram

Categories

  • Children (2)
  • Kids (2)
  • Life (6)
  • Marriage (5)
  • Motherhood (4)
  • Parenting (2)
  • Play and Learn (1)
  • Pregnancy (4)
  • Printable (1)
  • School (2)
  • Toddlers (2)
  • Women (4)

recent posts

Sponsor

Blog Archive

  • Mei 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Maret 2019 (1)
  • Januari 2019 (2)
  • Agustus 2018 (1)
  • Mei 2018 (1)
  • Februari 2018 (2)

I'M PART OF

I'M PART OF
Facebook Twitter Instagram
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose