Kata orang, menjadi Ibu itu seru. Kata orang, menjadi
Ibu itu melelahkan. Kata orang juga, sejak jadi Ibu banyak hal yang berubah.
Mulai dari preferensi makan, jam tidur, preferensi barang belanjaan, dan masih
banyak lagi. Masih kata orang juga, si Ayah bakal jadi nomor dua setelah
tergeser oleh anak yang menduduki peringkat pertama daftar prioritas Ibu.
Tapiii, bener begitu nggak sih?
Kalau kata saya nih, menjadi Ibu bagai terlahir jadi
pribadi yang baru. Jadi, kemarin waktu lahiran bukan si bayi aja yang lahir,
tapi saya juga. Bedanya, saya nggak nangis oek-oek, cuma nangis haru aja
diem-dieman, yang denger juga cuma suami. Namanya “terlahir jadi pribadi yang
baru” tentu saja ada beberapa hal yang berubah dari diri saya yang sebelumnya.
Bukan hanya tentang sifat saja namun juga sikap.
***
Saya dulu orangnya sangat nggak sabaran. Sejak punya anak, yah, lumayan berkurang walau masih
agak nggak sabaran juga kadang-kadang. Saya dulu suka banget belanja barang fashion sama make up. Sekarang, baju baru? Apa itu? Yang ada, baju bayi baru,
buku bayi baru, mainan bayi baru. Gitu. Kalau dulu saya di rumah aja selalu
pakai bedak dan lipbalm sehabis
mandi, sekarang, ya ampuuun bisa mandi aja puji Tuhan! Resmilah saya jadi
“mak-mak berdaster” tiap harinya.
![]() |
| Source: pexels.com |
Walaupun sudah banyak hal yang berubah, namun Clara
bukan Clara namanya kalau nggak impulsif. Dan hal ini kadang-kadang membawa
Clara pada kemalangan tapi kadang-kadang juga keuntungan. Ceritanya, saya
memang sudah memutuskan untuk jadi ibu rumah tangga aja, atau bahasa hits-nya sekarang “full time mom.”
Namun, pada kenyataannya, saya sekarang menjadi “working mom.” Kok bisa? Ya
karena….impulsif! Saat cuti melahirkan kemarin, saya memang sekalian resign dari tempat kerja yang lama
karena pindah domisili ke luar kota. Namun, di tengah-tengah masa tidak bekerja
yang sungguh indah itu, entah kenapa ada teman yang membagikan info lowongan
pekerjaan melalui WhatsApp messenger. Jadi
guru Bahasa Inggris. Di Malang. “Wah, boleh juga nih,” pikir saya kala itu. Dan
karena sekarang teknologi udah makin canggih sampai-sampai semua file penting
saya ada di “awan” alias cloud drive, saya
saat itu tinggal kirim-kirim e-mail saja,
ya apalagi kalau nggak melamar
pekerjaan guru di Malang itu! Nggak bilang suami, lagi. Salah besar saya.
Malangnya, atau untungnya, lamaran pekerjaan saya di-follow up. Dan mau nggak mau saya harus
bilang suami. Eh, dia iya iya aja nggak marah. Cuma, dia bertanya satu hal pada
saya, “Kamu yakin?” Ini pertanyaan susah banget ya jawabnya. Satu pertanyaan
tapi sebenernya kumpulan dari berbagai macam pertanyaan seperti “ntar Ale
gimana”, “kamu bisa manage waktu
nggak”, “udah siap ngajar lagi belum”, “kenapa mau kerja”, “apa yang dicari”,
dan lain sebagainya. Konyolnya, dengan impulsif (lagi) saya menjawab “Yakin.”
Titik. Daaaan, suami saya menjawab “Ya sudah kalau kamu yakin. Datang aja
dulu,” Singkat cerita, akhirnya saya menjadi guru part-time yang hanya datang saat mengajar. Jadi, nggak full satu minggu harus datang, melainkan
hanya tiga hari saja.
Selama tiga hari tersebut, saya selalu bangun pukul 4
pagi, mandi, (di awal-awal saya menyiapkan bekal saya dan suami, namun sekarang
sudah tidak, karena ternyata sungguh melelahkan), lalu menyiapkan barang-barang
anak yang akan dibawa ke Pakde dan Bude saya atau Opa dan Omanya Ale. Lalu
pukul setengah 6 saya sudah harus berangkat ke sekolah karena sekolah tempat
saya mengajar sangat jauh dari rumah, dan saya masuk pukul 6:27. Selesai
sekolah, masih ada pelajaran tambahan sehingga saya baru caw pulang dari sekolah sekitar jam setengah empat dan sampai rumah
sekitar jam setengah lima sore. Hampir 12 jam, ya? Lalu selesai berperan
menjadi guru, saya berperan menjadi istri dan ibu di rumah. Beres-beres rumah, mandiin
Ale (saya mandi juga barengan), cuci piring sisa pagi yang tidak pernah sempat
dicuci, dan masak untuk makan malam. Begitu selama tiga hari setiap minggunya.
Dan rasanya sungguh melelahkan, inside
out.
Jarak tempuh yang terlalu jauh, rasa rindu kepada
anak, dan segala tetek bengek kepikiran anak yang nggak kunjung selesai, bikin
bekerja jadi terasa penuh beban. Ada penyesalan dalam benak saya meninggalkan
anak yang masih kecil untuk bekerja, yang saya juga nggak tahu untuk apa.
Mungkin orang bisa berkata bahwa wanita harus bekerja untuk jaga-jaga, atau
untuk bisa mandiri. Saya setuju, hanya mungkin bukan sekarang waktunya. Dan
kalaupun tujuannya untuk “mencari uang” mungkin saya akan memilih untuk
melakukannya dari rumah saja, tanpa harus meninggalkan anak. Karena, anak saya
selucu, seimut, semenggemaskan, sengangenin itu untuk ditinggal kerja. Halah, lebay. Ya gimana? Kan nggak ada kecap
nomor dua?
Dari situ saya belajar, bahwa hidup baru sebagai Ibu
tidak melulu indah, tidak melulu tentang menjadi pribadi yang lebih baik. In my case, somehow I feel that I failed.
For not being able to prepare my husband’s lunchbox every day, for not being
able to finish all household things in a day, for not being able to be by my
baby’s side every time, for not being able to see every milestone my baby makes
each day, for not being perfect. Tapi satu hal yang suami saya selalu
bilang ke saya despite everything,
“You have done enough, Bun. And I’m thankful for it.” Hampir setiap hari suami
saya berterima kasih ke saya, and it
means a lot to me. Literally.
My
new life as a mom memang saya sibukkan untuk
meratapi ketidakmampuan saya menjadi Ibu yang baik. Banyak hal berubah dan saya
ternyata membutuhkan waktu yang lebih lama ketimbang banyak Ibu baru untuk
beradaptasi dengan banyak perubahan tersebut. Yes, I am suck at it. All I
think about is my family, dan ketakutan terbesar saya adalah tidak
memberikan yang terbaik bagi mereka.
Banyak
yang masih harus saya benahi sebagai seorang Ibu dan Istri, dan sejauh ini saya
menikmati segala prosesnya. Meskipun tidak sempurna, saya seorang Ibu yang
bahagia kok! Dan, highlight dari tulisan saya kali ini adalah, bahwa nggak ada Ibu yang sempurna jika dibandingkan dengan Ibu-ibu yang lainnya. Tetapi percayalah, you're just perfectly enough for your family, Bu.. Dengan menyadari dan merangkul perasaan tersebut, harapannya saya dan Ibu-ibu lainnya bisa memahami bahwa dengan merasa bahagia karena hal sederhana seperti bisa berkumpul dan bersenang-senang dengan keluarga itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi seorang ibu yang baik. Hal tersebut seperti bahan bakar kita para Ibu untuk terus mencurahkan energi positif dalam apapun yang kita lakukan. Jadi, semoga para Ibu di dunia ini selalu berbahagia ya! Karena Ibu adalah poros yang harus selalu kuat meskipun diterjang badai sekencang apapun.
XOXO,
Clara
