Percaya nggak percaya, akhirnya hamil juga. Setelah drama berhari-hari kenapa hasil tesnya selalu negatif, akhirnya positif juga.
***
Hasilnya, sebulan setelah menikah saya sudah hamil. Kaget? Iya. Seneng? Iya. Was-was? Iya banget. Kaget karena cepet banget. Seneng karena kemakan euphoria pasca menikah aja, dikit-dikit beli test pack, kalau strip masih satu jatohnya galau, terus begitu muncul dua strip girang gak ketulungan. Was-was karena bingung! Nahloh. Gak kepengen menunda tapi begitu langsung dikasih jadi bingung. Ngerasa nggak siap banget secara makan masih ngawur, pola hidup masih belum bener, masih kepengen 'pacaran' dulu sama suami, dan yang paling menguras pikiran nggak lain dan nggak bukan adalah: saya dan suami masih LDR, dengan situasi saya masih indekos pula. Huahhhh.... Kalo boleh milih pengennya pas sudah literally seatap sama suami sih. Tapi dasar manusia ya. Nggak ada rasa bersyukurnya. Akhirnya, saya merasa bahwa dengan kondisi saya dan suami yang masih 'seperti ini', Tuhan merasa kami siap menyambut anggota baru di tengah keluarga kami. Jadi, dari semangat itulah kami berdua berusaha sebaik mungkin menata kembali pola hidup, menjaga kehamilan, dan tentunya saling mendukung yang lebih ekstra daripada biasanya.
Saat itu, saya pengen memberi sedikit kejutan pada suami dengan tidak langsung memberitahunya bahwa saya sudah mengandung. Skenarionya, karena saat weekend dia pasti mengunjungi saya ke Surabaya, saya ingin berdandan cantik dan memberinya sekotak hadiah yang isinya berupa test pack saya. Namun, karena dia saat itu terjebak macet dan saya harus menunggunya beberapa jam lebih lama, saya mulai kelaparan dan berujung cranky. Akhirnya saya hampir menangis menelepon suami "Aku ini hamiiil. Aku lapeeeerrrrr!!" Dan tentu saja suami langsung panik, tancap gas lebih dalam dan 30 menit kemudian sampailah dia di depan kos saya. Hahahaha... Kalau diingat-ingat, ngapain juga saya jadi aneh begitu, ya? Ujungnya, surprise pun gagal terlaksana. Tapi tetap saja saya berikan karena sudah saya siapkan juga malam harinya. Sayang kalau akhirnya dibuang, kan.
I know he's not into this kind of surprise-thingy, but he still blushed when opening this, though.
Sampai di tempat praktik pukul 8 malam, saya baru masuk ke ruang konsultasi pukul 10. Lelah, ngantuk, pegal, semua terbayar ketika bapak dokter mengatakan bahwa saya benar hamil, sembari menunjukkan satu titik pada layar USG yang merupakan "kantong kehamilan". Dokter juga mengatakan bahwa sejauh ini kondisi saya sehat, makan apa saja boleh tidak ada pantangan kecuali boga bahari dari laut utara (Gresik, Surabaya) karena mengandung merkuri yang tinggi. Selain itu, saya juga disarankan untuk tetap beraktivitas seperti biasa, tetap boleh berkendara dan tetap melanjutkan rutinitas Yoga saya.
| Foto USG pertama yang menunjukkan kantong kehamilan saya. |
Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke Gresik (rumah orangtua saya) sampai larut malam dan kemudian beristirahat. Tentu saja kami senang sekali, walaupun kami harus menjalani LDR lagi keesokan harinya. Saat suami saya kembali ke Malang, saya langsung menangis. Saya takut nggak sanggup menjalani kehamilan tanpa kehadiran suami saya setiap hari. Tapi, saya harus semangat, harus bahagia, karena ada satu makhluk kecil di dalam tubuh saya yang juga berhak untuk bahagia. Maka dari itu saya putuskan untuk menjalani kehamilan ini dengan santai. Dengan begitu, beban berat pun tidak lagi menjadi berat.
Karena perjalanan ini begitu panjang, cerita kehamilan saya bersambung di postingan selanjutnya, ya!
XOXO,
Clara
2 komentar
Aku ikut seneng bacanya, selamat mbak...
BalasHapustulisannya juga menarik asik di baca...
siap siap nantti trismester ketiga dan pasca melahirkan ..hahaaaa
eh eh eh, ya tapi gak sampe mual hebat ya
Hihihi ini sebenernya flashback setahun yang lalu Mbak, cuma baru cerita sekarang. SI bayi udah mau setengah tahun sekarang... :D
HapusEnggak puji Tuhan gak mual2 hebat, mungkin selama 9 bulan muntah2 cuma 10an kali gitu :)