It was such a miracle. It is a miracle. And it will be
a miracle for both of us. Jatuh cinta itu
tidak mudah. Setidaknya, itulah yang kami alami. Kami sama-sama jatuh cinta,
sama-sama ingin bersama, tapi ada belenggu besar di antara kami saat itu.
Perbedaan sangat besar yang membuat kami bertanya-tanya, akankah impian hidup bersama
bisa menjadi nyata? Nyatanya, bisa.
...
Setelah kemelut panjang,
perdebatan tak berkesudahan, beribu isak tangis dan air mata, akhirnya kami
memutuskan untuk menikah. Keputusan besar yang mengubah hidup kami. Kami
melangsungkan pernikahan secara sederhana, dengan waktu persiapan hanya kurang
lebih tiga bulan saja. Heboh, capek, tapi senang. Banyak miskomunikasi di
sana-sini tapi puji Tuhan sampai hari H semua aman terkendali.
Karena pernikahan kami
begitu sederhana, orang-orang yang diundang pun hanya teman dekat dan keluarga.
Baju pengantin wanita saya gambar sendiri, cari kain sendiri, lalu saya
setorkan ke penjahit langganan untuk menekan biaya. Undangan pun begitu. Saya
desain sendiri, lalu saya setor ke percetakan untuk dicetak. Kebetulan kami
membuat dua macam undangan, satu undangan resepsi (yang dicetak di percetakan),
dan undangan pemberkatan. Alasan kami membuat dua macam undangan tidak lain
karena tidak semua yang kami undang ke resepsi, kami undang pula ke acara
pemberkatan. Kami juga merasa, dengan membedakan undangan, maka para undangan akan
merasa spesial, karena para undangan pemberkatan juga merupakan orang-orang
yang dekat dengan keluarga kami.
Lokasi yang kami pilih
adalah sebuah restoran dengan gaya joglo, sehingga konsep pernikahan Jawa yang
akan kami langsungkan bakal terasa lebih kental suasana Jawa-nya. Tentu saja,
makanan pun kami pesan di restoran tersebut untuk efisiensi. Tenang, kami tidak
asal pilih restoran, kok. Kami sampai berkali-kali food testing karena memang cita rasa masakannya enak. Hihihi. Nama
restoran yang kami pilih adalah restoran Joyo Hartono, berlokasi di dekat
Kantor Bupati Gresik. Restoran tersebut sangat fleksibel dalam mengabulkan
permintaan pelanggan. Saat itu, kebetulan di tanggal yang sama dengan
pernikahan saya, restoran sudah di-book
untuk acara pernikahan juga di pagi hari. Namun, beruntungnya pihak restoran
menyanggupi melaksanakan pernikahan kami pada malam harinya. Sungguh luar
biasa.
Berkaitan dengan adanya
pernikahan di tempat yang sama di pagi harinya, dekorasi yang kami pesan pun ndilalah dari tempat yang sama dengan
dekorasi acara paginya. Jadi, Salon Ceha, tempat kami menyewa dekorasi,
menyanggupi untuk mendekor venue
untuk acara malam hari. Karena hal itulah, saya dapat bonus salah satu elemen
dekorasi yang sebenarnya tidak saya pesan. Ini juga luar biasa, kan?
Untuk souvenir, kami
sengaja memilih sumpit karena ada pesan tersirat di balik sepasang sumpit. Ya,
apalagi kalau bukan “sumpit harus
berpasangan, fungsinya tidak maksimal jika hanya satu batang saja”. Sama
seperti suami istri, harus selalu berpasangan dan tidak dapat terpisahkan.
Ceilaaah. Souvenir ini kami beli secara online, lalu kami hias sendiri.
Pokoknya yang bisa dikerjakan sendiri, pasti kami kerjakan sendiri.
Ah, mengingat masa-masa
pernikahan bikin kembali deg-degan. Tentu saja banyak konflik, perdebatan, tapi
perjuangannya nikmat sekali. Apalagi keluarga besar saling bahu membahu
membantu pernikahan kami terlaksana dengan baik. Fix jadi momen paling spesial
dan tak terlupakan buat kami berdua.
Ibuku juga jauh-jauh datang
dari Kalimantan untuk hadir di pernikahan kami. Dan, hari itu, 9 Juli 2017,
semua orang nampak bahagia. Kakak perempuanku juga dengan tulus melepasku untuk
menikah mendahuluinya. Tentu saja ada ritual yang membuat kami berpelukan,
menangis, namun sungguh bahagia. Karena, sejatinya kakak perempuanku adalah
kakakku sekaligus teman sekaligus orangtua bagiku. Tidak mudah, tentu, untuk
menikah mendahuluinya. Namun dengan penuh kerendahan hati kami berdua pun mampu
menghadapinya.
Semua keluarga bahagia,
semua undangan bahagia, pasangan pengantin pun bahagia.








