Setelah dikonfirmasi oleh dokter kandungan bahwa saya positif mengandung dengan usia kehamilan 4W, saya menjadi lebih siap menjalani kehamilan pertama ini, walaupun harus dijalani secara berjauhan dengan suami.
***
Dokter bilang saya beneran hamil karena udah kelihatan kantong hamilnya. Saya senang bukan main, mulai cerewet nanyain ini itu ke dokter, dan seperti kebanyakan dokter yang menghadapi euforia kehamilan pertama pasiennya, dr. Robby Budilarto pun menjawab dengan santai segala pertanyaan yang muncul dan membuat saya merasa tenang.
"Dok, boleh nggak sih kalau saya terusin yoga?"
"Boleh. Kenapa enggak? Aktivitas yang biasa dilakukan, lakukan saja senyamannya,"
"Oh gitu ya. Kalau naik motor, gimana dok?"
"Ya kalau biasanya naik motor, tetap naik motor saja. Pokoknya kebiasaan olahraga, mobilitas, dilakukan saja seperti biasa. Kalau capek, istirahat. Itu yang penting."
"Kalau makanan gimana dok?"
"Ya kalau makanan, yang penting jangan seafood seperti kerang, dan lainnya ya. Apalagi yang dari perairan Gresik. Banyak timbalnya. Gak baik."
"Ooooh gitu. Baik, dok!"
Kira-kira seperti itulah gambaran percakapan kami saat itu.
"Dok, boleh nggak sih kalau saya terusin yoga?"
"Boleh. Kenapa enggak? Aktivitas yang biasa dilakukan, lakukan saja senyamannya,"
"Oh gitu ya. Kalau naik motor, gimana dok?"
"Ya kalau biasanya naik motor, tetap naik motor saja. Pokoknya kebiasaan olahraga, mobilitas, dilakukan saja seperti biasa. Kalau capek, istirahat. Itu yang penting."
"Kalau makanan gimana dok?"
"Ya kalau makanan, yang penting jangan seafood seperti kerang, dan lainnya ya. Apalagi yang dari perairan Gresik. Banyak timbalnya. Gak baik."
"Ooooh gitu. Baik, dok!"
Kira-kira seperti itulah gambaran percakapan kami saat itu.
| Awal-awal hamil, masih sanggup main ke pantai |
Di tengah masa LDR yang cukup melelahkan, kehamilan bisa
menjadi sebuah beban, atau justru sebuah alasan untuk tumbuh menjadi pasangan
yang semakin kuat dan berbahagia. Saya memilih opsi kedua. Cara saya dan suami
menghadapi tantangan ini adalah dengan berkomunikasi secara intens, kecuali saat
bekerja, tentu saja. Setiap malam kami berbicara melalui telepon dan seringkali
melakukan panggilan video. Jadi, suami bisa melihat perkembangan perut saya
yang kian membesar, melihat bagaimana bayi kami begitu aktif ketika sang ayah
mengajaknya berbicara. Sungguh membahagiakan!
Selain itu, kami juga selalu berusaha untuk bertemu setiap
minggu. Jikalau salah satu dari kami memiliki agenda yang tidak dapat ditolerir
seperti acara kantor, misalnya, maka kami akan bertemu di minggu berikutnya.
Akhir pekan adalah waktu yang kami tunggu-tunggu, karena kami akan bertemu.
Terkadang, suami mengunjungi saya ke Surabaya tapi terkadang saya yang
mengunjungi suami ke Malang. Terkadang, suami menjemput saya, tetapi terkadang
saya berangkat menemuinya dengan menggunakan transportasi umum.
Hal tersebut ternyata menimbulkan kasak-kusuk dari beberapa
teman saya. Banyak yang menganggap suami saya tidak perhatian, karena saya
harus naik bis sendiri dalam keadaan hamil. Bukan itu saja, mereka juga
membandingkan bagaimana kekasih atau suaminya memperlakukannya. “Kalau dia
nggak akan ngebiarin aku berangkat sendirian, padahal kami masih pacaran lho.
Kok suamimu gitu, ya?” begitulah pertanyaan yang pernah saya dapat. Nggak pengin menimbulkan konflik, saya
pun menjawab santai “Ya itulah bedanya pacarmu sama suamiku, suamiku membiarkan
aku mandiri dan pacarmu nggak kepengen kamu susah.” Padahal, dalam
hati saya kesel banget.
Saya memang terbiasa dari kecil mengurus keperluan saya
sendiri. Saat SD saya sudah biasa naik transportasi umum sendirian ke rumah
tante di Surabaya. Mendaftar SMP, SMA, dan kuliah pun saya berangkat sendiri.
Kecuali saat kuliah, mama saya bersikeras mengantar saya walau saya saat itu
bersikeras berangkat sendiri juga. Saat berkuliah di Malang pun, saya biasa tuh
naik motor dari Gresik-Malang-Gresik sendiri.
Jadi, karena terbiasa itulah saya
nggak kepengen memanjakan diri saya
karena saya tahu saya bisa melakukannya sendiri. Sometimes hal kaya gini bisa jadi turn off buat para laki-laki tapi tidak dengan suamiku. Dia paham
betul saya seperti apa sehingga dia membiarkan saya mandiri tapi tetap dalam
pantauannya. Selain itu, saya ingin percaya bahwa saat hamil pun saya bisa
mandiri dan membiasakan anak saya untuk mandiri sejak di dalam kandungan. Entah
pikiran tersebut datang dari mana, tetapi saya percaya apa yang saya lakukan
sejak hamil memengaruhi sikap anak saya saat dia telah lahir. Begitulah, anak
saya sekarang tumbuh menjadi anak yang nggak rewel kok diajak naik transportasi
umum sekalipun.
Semakin perut saya membesar, rasanya semakin sesak. Nafas
terengah-engah, tidur nggak bisa enak, tapi sungguh saya menikmatinya. Kalau
ditanya, mau hamil lagi nggak? Saya pasti akan jawab: MAU. Tapi nggak sekarang,
nunggu si sulung 5 tahun lah ya baru mau hamil lagi. Hehe. Memang, hamil itu
perjuangan banget. Ada beberapa orang yang sampe harus bedrest, ada yang selalu
muntah tiap pagi, dan lain-lain. Tapi, beruntungnya, saat hamil ini saya masih
aktif mau ngapa-ngapain walaupun sering juga jatuh sakit seperti flu, pusing
parah setelah berkali-kali mimisan, daaaan...terkena cacar di usia kehamilan 8 bulan! Wuaaah.....
| Usia kehamilan 6 bulan, udah kaya 8 bulan aja |
Pengalaman cacar tersebut bener-bener di luar dugaan. Karena, saya sudah mengalami cacar saat saya masih kecil. Tapi, memang keadaannya saat itu di rumah ada yang sedang cacar, jadilah saya yang imunitasnya menurun ini ketularan juga. Dan ngga tanggung-tanggung, cacar yang saya alami muncul dari kulit kepala hingga ujung kaki! Beberapa bekasnya juga nggak hilang sampai sekarang. Pokoknya luar biasa deh. Gatal, nyeri, pokoknya amat sangat mengganggu. Sampai akhirnya, saya cuti melahirkan 2 minggu lebih awal dan langsung 'diangkut' suami ke Malang. Cacar sih, tapi kok bahagia ya :D
Sampai akhirnyaaa, pada akhir Maret 2018 lalu lahirlah putra pertama kami yang kami panggil 'Ale'. Makhluk kecil, miniatur saya, yang bener-bener saya dan suami cintai karena begitu lucu, polos, dan menggemaskan. Rasanya nggak ada duanya deh pokoknya :D

0 komentar